Peta Desa Panyerangan
Perbaikan Mutu Tanah Kering Melalui Adopsi Inovasi Pupuk Bokashi
Meningkatkan Jiwa Kreativitas Tanpa Batas Melalui Inovasi Limbah Tusuk Sate
Teknologi Informasi, Sebuah Pengetahuan yang Aplikatif Bagi Anak Usia Sekolah Untuk Meningkatkan Jiwa Kompetitif

Pengrajin Tusuk Sate, Salah Satu Profesi Warga Desa Panyerangan, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang.


Pohon Bambu merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam yang di miliki Desa Panyerangan. Hampir setiap sudut Desa Panyerangan ditumbuhi Pohon yang masih tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) ini.

Potensi Sumber Daya Alam tersebut di manfaatkan dengan baik oleh beberapa warga untuk dijadikan sebagai mata pencaharian utama mereka. Mereka memanfaatkan pohon bambu untuk dijadikan Tusuk Sate.

Sate merupakan makanan yang sangat digemari oleh Masyarakat Indonesia, tak terkecuali masyarakat di Pulau Madura. Selain terkenal sebagai Pulau Garam, Madura juga terkenal dengan satenya.

Dari fakta tersebut, maka profesi sebagai Pengrajin Tusuk Sate adalah salah satu profesi yang cukup menjanjikan dan bisa dijadikan sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama warga Desa Panyerangan.

Beberapa hari yang lalu Mahasiswa KKN 79 UTM berkesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan Tusuk Sate dari rumah salah satu Pengrajin Tusuk Sate di Dusun Anyir, Desa Panyerangan.

Proses pembuatan tusuk sate terbagi menjadi beberapa tahapan. Dimulai dari penebangan pohon bambu yang sudah tua seperti gambar berikut.


Jenis bambu yang digunakan adalah bambu yang memiliki nama latin Bambusa Arundinacea Wild atau Pring Ori. Penebangan bambu jenis ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena bambu jenis ini memiliki senjata berupa duri pada tiap batangnya. Maka dari itu, walaupun para Pengrajin Tusuk Sate di Desa Panyerangan rata-rata memiliki pohon bambu sendiri, mereka lebih memilih untuk membeli bambu dari tetangga sekitar sehingga tidak perlu bersusah payah untuk menebang pohon bambu sendiri.


Proses selanjutnya yaitu memotong batang bambu yang masih utuh menjadi potongan-potongan pendek sesuai ukuran Tusuk Sate dengan menggunakan mesin pemotong bambu/kayu.


Kemudian dari potongan tersebut di potong-potong lagi menggunakan mesin pembuat Tusuk Sate sehingga menghasilkan tusuk sate yang masih kasar seperti gambar berikut.


Tusuk sate yang masih kasar dan berbentuk balok tersebut kemudian di haluskan dan di bulatkan menggunakan mesin pembuat Tusuk Sate.



Tahap terakhir adalah penjemuran Tusuk Sate sampai kering untuk kemudian siap dijual kepada para penjual sate.


Sebenarnya masih ada satu tahap lagi sebelum dijual, yaitu tahap melancipkan ujung tusuk sate. Namun, jika di kerjakan secara manual maka prosesnya akan memakan banyak waktu sedangkan harga mesinnya sangat mahal sehingga Pengrajin Tusuk Sate di Desa Penyerangan langsung menjual tusuk sate tanpa melalui proses pelancipan ujung tusuk sate.



Previous
Next Post »
Thanks for your comment